Yang Tua Vs Yang Muda:
“Mari Bicara Karya yang Telah Ditelorkan”
Kontroversi antara yang tua dan muda terus memanas, bergulir membentuk gurat-gurat perseteruan dan peperangan wacana. Bermula dari protes sineas muda yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia atas keberadaan FFI, LSF dan pranata dalam perfilman Indonesia agar ada perbaikan, hingga arogansi segelintir “sesepuh” dunia perfilman yang mengaku telah berpengalaman lebih dari 30 tahun di dunia perfilman Indonesia dalam menyikapi gelombang keritik para sineas muda kita. Semua menggelontor mengisi ruang-ruang media yang mau tak mau adalah konsumsi sehari-hari masyarakat yang sulit dielakkan. Dan oleh kelenturan serta kreativitas media, perang persepsi dan polemik tersebut dikemas menjadi sebuah infotainment (informasi hiburan) yang diharapkan mampumencetak rating tinggi.
Masyarakat dalam hal ini adalah penonton, kembali harus mengelus dada menyaksikan aksi saling tanggap (counter) tersebut. Ada sosok yang telah begitu lama dikenal dalam aksinya di puluhan atau bahkan ratusan “sinetron”, yang begitu emosionalnya dalam menyampaikan ketaksetujuan atas keinginan para sineas muda terkait dengan pembenahan fungsi LSF tersebut. Ia begitu bersemangat bicara soal baik dan buruknya karya perfilman Indonesia. Nagabonar memang harus diacungi jempol sebagai film terbaik. Ini fakta. Kemudian Ayat-Ayat Cinta yang tampil dan mampu menghipnotis dan merebut hati penonton Indonesia juga layak kita beri ponten bagus. Ini adalah realitas.
“Nagabonar dan ayat-ayat cinta sudah jelas film terbaik, saya sudah 30 tahun berkecimpung dalam dunia perfilman ini, dan film-film mereka itu apa, jelek dan busuk semua’” pernyataan itu kurang lebih yang meluncur dengan lantang dan emosional dari seorang tokoh senior dalam perfilman Indonesia yang tentu sangat anda kenal dengan berbagai pernyataannya yang selalu emosional baik ketika gelombang protes atas FFI hingga sat ini.
Sebagai penonton yang selalu berusaha menyenangi dan mengikuti perkembangan perfilman Indonesia, boleh jadi anda pun ikut terkejut mendengar dan melihat aksen tokoh yang kita kagumi itu. Ragam pertanyaan pun akhirnya muncul. Apa iya karya-karya sineas muda (yang menjadi tujuan dari statement di atas) seperti karya Riri Riza, Mira Lesmana dan lainnya (kecuali untk Nagabonar dan Ayat-ayat Cinta) adalah “busuk’ adanya. GIE sebut saja, dari segi pesan dan performa dari film tersebut jelas bermanfaat bagi publik. Kemudian Ada Apa dengan Cinta, Novel Tanpa Huruf R, 3 day’s Forever, dan banyak lainnya. Jelas dari sisi persepsi penonton dan media film-film tersebut menempati posisi yang bisa disebut sebagai film-fillm yang prestatif dan diterima oleh masyarakat. Lalu di mana letak kebusukannya?
Mengutip pernyataan Riri Riza kurang lebih, “Ya saya sendiri sudah membuat 5 film, lalu berapa film (karya) yang ia hasilkan?”. Pernyataan Riri ini tentu lebih bijaksana dan tidak dimaksudkan untuk memperpanjang debat kusir yang ada. Ia lebih mengajak kita bicara soal karya dan bukan soal usia kita dalam berdedikasi di ranah perfilman Indonesia. Bukan pula soal yunioritas atau pun senioritas, melankan mari secara legowo kita bicara soal karya.
Tidak memihak siapapun dan ikut memperuncing adu argument yang terjadi, sebagai masyarakat yang menonton film Indonesia tentu kita berharap adanya sebuah keharmonisan baik secara komunikasi maupun interaksi antara yang “muda” dan yang “tua” di ranah perfilman Indonesia ini. Spin Doctoring dalam istilah kehumasan yang dalam hal ini terkait dengan bagaimana mengontrol pesan (statement) mungkin perlu kembali untuk direnungkan dan dilakukan. Kita tengok impact dari dilupakannya kemampuan untuk mengontrol pesan oleh seorang ketua dewan kehormatan DPR beberapa waktu lalu terkait dengan karya seni yang dibesut oleh Slank, dan hasilnya, statement yang keluar justru pernyataan yang tidak cerdas yang disampaikan oleh seorang yang intelek.
Kehati-hatian yang dilandasi dengan semangat untuk membangun secara cerdas ranah perfilman Indonesia ini diharapkan agar; pertama penonton (film maupun media televisi) tidak dibuat bingung atau bahkan apatis, melainkan bisa dijadika acuan untuk perkembangan ranah perfilman ke arah perubahan yang lebih baik. Kedua, seyogyanya gonjang-ganjing dalam tubuh perfilman nasional yang melibatkan dua kubu, muda dan tua atau yang sering dilontarkan dalam istilah junior dan senor ini, pemerintah dalam hal ini memiliki kewajiban untuk menyediakan ruang mediasi yang tepat. Sehingga, kita masing-masing bisa saling menghargai dan menghormati ragam masukan. Baik maskan yang datang dari para sineas muda (yang dalam hal ini adalah diakui atau tidak merupakan motor penggerak pertumbuhan film Indonesia) mau pun tanggapan dari yang tua (yang oleh para sineas muda selalu dihormati dan dianggap sebagai patokan). Ketiga, seyogyanya kita fair dalam melihat dan menilai sebuah karya. Film mau tidak mau tak hanya menjadi urusan orang flm saja, melainkan melibatkan khalayak luas yang dalam hal ini adalah penonton.
Dengan demikian kedewasaan dalam menyampaikan kritik mau pun menanggapi kritikan, sepedas apa pun tentu dibutuhkan sebuah kebijaksanaan sikap dan kata. Pendapat personal boleh jadi bisa baik dan benar, namun jika kemudian pendapat personal tersebut memiliki implikasi atau indikasi adanya kepentingan tertentu dibalik itu, hasilnya bisa jadi benar buat person tersebut dan bisa jadi salah buat khalayak luas. Pernyataan pibadi yang dilandasi dengan sikap emosional boleh jadi mendapat tanggapan positif jika dilandasi oleh dasar-dasar penilaian yang obyektif dari pribadi tersebut. Jadi, bukan sebuah penilaian yang dilandasi oleh rasa iri saja atau karena keinginan untuk membangun sebuah citra personal serta eksistensinya ditengah keruhnya informasi dan komunikasi yang berlangsung.
Kini ada baiknya masing-masing pihak berbicara soal karya secara jujur. Bagaimana karya tersebut mampu menyumbang dan membangun serta mencerdaskan bangsa ini atau bagai mana karya tersebut mampu mencitrakan Indonesia yang cerdas, yang saling asah, asih dan asuh. Tentu para penonton film Indonesia sepakat dan berharap, di sana, dalam tubuh perfilman Indonesia hendaknya tak lagi saling tuding, siapa yang jelek dan siapa yang bagus. Siapa yang lama di dunia film dan siapa yang baru. Sehingga, penonton dyang adalah penyokong utama keberhasilan sebuah film Indonesia tidak dibuat pusing karena harus terus berakrobat dengan lingkaran polemik ini.
Penonton Indonesia mengharap sebuah tontonan yang mampu memberi pencerahan dan bukannya perang statemen yang justru akan membuat citra perfilman kita carut-marut dan bukan terjadinya sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Semoga…


Komentar Terbaru