Masyarakat Samin dalam Film Layar Lebar Tribeca Film Festival 2008
19  March  2008

Romantisme Islami “Ayat-Ayat Cinta”

Jika banyak orang bilang bahwa tokoh Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta sangat sempurna, maka saya berkata bahwa novel ini berusaha berkisah sebuah kehidupan Islami yang sempurna dari seseorang muslim (bukan ‘muslimah’, melainkan ‘muslim’). Menonton film Ayat-Ayat Cinta seraya mengingatkan saya pada Aa’ Gym. Ingat sebelum Aa’ Gym menikah untuk yang kedua kalinya? Semua ibu-ibu serasa memuja dia sebagai ‘laki-laki yang sempurna’. Setelah ia berpoligami, tiba-tiba pamornya turun drastis. Sekeras apa pun Aa’ Gym mencoba memperbaiki ‘kesalahannya’ ini, cacat tetaplah cacat. Di mata ummatnya ia bukan lagi sempurna, meskipun di program tv Kick Andy dibela-belain pake acara nangis segala.

Saya tidak tahu, apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran muslim (sekali lagi, ‘muslim’… bukan ‘muslimah’) kita. Selama ini kita terlalu sibuk berkoar-koar mencari tahu: apakah surat An-Nisa itu sebetulnya memperbolehkan poligami atau tidak. Tapi, bagaimana dengan apa yang ada di isi kepala kaum muslim itu sendiri? Apakah mereka ingin poligami? Atau tidak ingin, meski istrinya (seperti halnya Aisya dalam novel AAC) sudah menyuruhnya menikah lagi.

Di dalam filmnya, Maria, Fahri dan Aisya dikisahkan sempat hidup bersama sebagai keluarga poligami. Diceritakan, Fahri sempat bingung bagaimana menyatukan kedua istrinya ini. Sedang di dalam novel, ceritanya beda lagi: Maria dinikahi Fahri ketika sakit parah, ia lalu bersaksi bahwa Fahri tidak pernah memerkosa Noura, setelah itu di ruang sidang Maria pingsan, dilarikan ke Rumah Sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Bagi saya, sebagai cerita justru lebih logis versi filmnya ketimbang novelnya. Dengan ending hidup Maria seperti di novel, sepertinya akan jadi sangat sinetron.

Saya membaca, AAC sepertinya obsesi (kebanyakan) muslim (atau setidaknya obsesi Habibburahman sendiri). Sebagai perempuan, bilanglah saya sinis. Bagaimana tidak: Fahri hidup jadi muslim yang baik, sekolah agama di Kairo, aktifis, bisa sembilan bahasa berbeda, pintar, sabar, baik hati, berperasaan halus, disukai banyak perempuan, dan ketika sudah menikah, dapat istri kaya raya (jadi tidak usah susah-susah kerja -meskipun diceritakan bahwa Fahri tidak ikhlas istrinya lebih kaya-), cantik yang mirip bidadari, mau mencari bukti bahwa suaminya tidak bersalah, dan… (yang paling penting) istri yang cantik bak bidadari inilah yang memaksa Fahri untuk menikahi perempuan yang sebenarnya dicintai Fahri, yaitu Maria. Belum berhenti sampai di situ, diceritakan pula, Fahri akhrinya bisa menarik Maria masuk ke agama Islam. Bukankah ini semua yang diinginkan muslim (sekali lagi, bukan ‘muslimah’ yang saya bicarakan). Kisah poligami Fahri juga sepertinya mau cari ‘aman’ (atau lebih tepatnya dibuat ‘aman’ oleh penulisnya. Di film, Hanung justru berusaha membuatnya untuk tidak terlalu ‘aman’ dari konsekweksi poligami) karena diceritakan Fahri sebetulnya tidak mau menikah lagi, yang memaksa adalah istrinya. Lalu, setelah dinikahi, tak lama kemudian Maria meninggal dunia. Duh… berutung sekali ya jadi Fahri! Inilah sebabnya, bagi saya AAC adalah gambaran sempurna hidup seorang muslim (bukan muslimah).

Di infotainment, Habiburrahman El Shirazy (novelis AAC), berkomentar akan film ini; bahwa Hanung tidak sepenuhnya mengerti isi novelnya, terutama karena perubahan-perubahan yang ada di dalam film. Dakwah dan keindahan diksi yang ada di novel juga jadi tidak terlalu jelas di film. Saya kira, Hanung (sutradara AAC) punya banyak alasan kenapa ia menerjemahkan novel ke dalam film sedemikian rupa. Hanung lebih mengerti bahasa gambar ketimbang Habiburrahman, itu sudah pasti. Dan semua orang juga tahu, bahwa kata-kata tidak bisa seluruhnya diterjemahkan ke dalam gambar, begitu pula sebaliknya. Habiburrahman mungkin ingin idealis sebagai novelis yang bukunya diterjemahkan ke dalam gambar. Berulang kali para sineas ingin membeli novel karya Pramoedya Ananta Toer untuk dijadikan film, dan itu bukan hanya sineas Indonesia. Berulang kali pula Pram menolak dengan alasan yang sangat ‘idealis’. Saya pikir, jika seorang penulis begitu yakin tulisannya sangat bagus, dan akan diubah-ubah sedemikian rupa oleh sineas, ia berhak untuk menolak perubahan itu, atau bisa lebih ekstrem; menolaknya. Belum lama saya menonton film Love in the Time of Cholera yang dibuat berdasarkan novel karya Gabriel Garcia marquez. Di film itu, kolera sepertinya hanya menjadi tempelan dan yang utama adalah kisah cinta tokoh-tokoh yang ada. Ini tentu sangat berbeda dengan novel aselinya. Saya, sebagai penonton, juga kecewa (mungkin seperti kecewanya para penggemar novel AAC). Tapi toh Marquez tidak pernah berkoar-koar betapa kecewanya ia pada hasil akhir filmnya. Ia menghormati keputusan sineas pembuat filmnya dan (yang paling penting) menghormati kontrak, mengingat Marquez toh dibayar pula untuk novelnya dibuat film.

Tokoh yang saya sukai (dan menurut saya sekali lagi Hanung membuat keputusan yang cerdas) yaitu tokoh teman penjara Fahri. Di antara semua karakter yang ada di dalam filmya, dialah kasting favorit saya. Di dalam novel, ada empat orang rekan sepenjara Fahri yang memainkan peranan berbeda-beda. Ia sepertinya bermain-main dengan metafora iblis, malaikat, keduaniawian, keakhiratan yang diwakili oleh empat tokoh yang berbeda. Sedang di dalam film semua hanya diwakili oleh satu tokoh; rekan sepenjara yang bisa berlaku gila, layaknya iblis hingga menjadi malaikat yang mengingatkan Fahri akan keikhlasan. Kastind rekan sepenjara Fahri berakting bagus, bagi saya, malah mungkin yang paling bagus di antara kasting lainnya kelihatannya yang cenderung sinetron. Untungnya pengambilan gambar dan grading film ini bagus, jadi kasting yang cukupan bisa ditutupi.

P.S.
Kembali ke soal Aa’ Gym…. Sayang, romantismenya dengan kedua istrinya tidak seindah kisah Fahri, meskipun sudah cukup Islami.

Masyarakat Samin dalam Film Layar Lebar Tribeca Film Festival 2008

2 Responses to “Romantisme Islami “Ayat-Ayat Cinta””

robby:

ketika saya membaca novel ini, yang saya rasakan secara pribadi adalah ketika seseorang sangat yakin akan apa yang di yakini dalam hal ini Agama dan Tuhannya maka dia akan menjalaninya dengan penuh keyakinan dan tidak akan takut akan sesuatu apapun karena mereka akan semua itu…itu yang saya dapatkan banyak dari novel ini bukan mengenai muslim yang sempurna, atau poligaminya…dan ketika saya menonton film ini saya sangat kecewa dengan tokoh fahri….karena dalam bayangan saya dia adalah seorang keturunan jawa yang berkulit sawo matang atau hitam yang notabene jebolan pesanten langitan dengan sedikit penyakit kulit pada tubuhnya bukan seorang lelaki yang berkulit putih, dan ganteng. Jika memang fahri penampilannya seperti yang digambarkan pada filmnya, jangankan dia baik budinya…brengsekpun masih akan ada yang menyukainya…

Romantisme islami”AYAT-AYAT CINTA” « Solihatbudisetiyadi’s Weblog:

[...] Saya tidak tahu, apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran muslim (sekali lagi, ‘muslim’… bukan ‘muslimah’) kita. Selama ini kita terlalu sibuk berkoar-koar mencari tahu: apakah surat An-Nisa itu sebetulnya memperbolehkan poligami atau tidak. Tapi, bagaimana dengan apa yang ada di isi kepala kaum muslim itu sendiri? Apakah mereka ingin poligami? Atau tidak ingin, meski istrinya (seperti halnya Aisya dalam novel AAC) sudah menyuruhnya menikah lagi. read more » [...]

Leave a Reply