The Photograph Quickie Express
15  July  2007

Potret Sunyi Sang Juru Foto


 Cukup lama tidak muncul film Indonesia yang enak ditonton, tapi berisi dan memiliki kedalaman. Film The Photograph karya Nan Achnas yang sedang diputar di beberapa bioskop hari-hari ini telah mengisi kekosongan itu.

Bobot film ini sudah tampak dari sederet grant yang dimenangi selama proses pengembangan skenario maupun produksinya: Prince Claus Fund (Cinemart), Göteborg Film Fund, Fond Sud (Perancis), Swiss Fund at Open Doors Locarno Film Festival, dan Les Petites Lumières (Perancis).

Film ini mengangkat kisah seorang juru foto keliling, Johan (50), lelaki Tionghoa yang sangat tertutup dan oleh para tetangganya dianggap sosok aneh dan agak “misterius”. Ia terbenam di sudutnya yang pengap di bawah bayang-bayang labirin masa lalunya yang jauh, muram, dan pelik. Tak seorang pun tahu siapa dan bagaimana lelaki ini menempuh sunyinya sendiri, melangkah menuju ajal.

Lalu, datang seorang perempuan bernama Sita (25), mengontrak sebuah kamar yang jorok dan penuh kepinding di rumah Johan. Mudah ditebak: Sita adalah perempuan urban yang terjebak runyamnya kehidupan kota sehingga harus menjadi pekerja seks dan penyanyi karaoke serta terlilit utang pada seorang germo. Sita harus melakukan apa saja untuk mencari uang guna menghidupi anaknya yang ditinggal di kampung bersama neneknya yang sakit-sakitan. Tentu, Sita juga harus mengalami kekerasan fisik yang lazim, termasuk diperkosa beberapa lelaki yang mengencaninya.
 

Klasik

Oke. Sita adalah karakter klasik dalam film Indonesia. Dan, karakter semacam ini memang mudah membangkitkan iba penonton. Biasanya ia akan menemui nasib yang lebih buruk, atau sebaliknya mendapatkan dewa penyelamat, atau bertobat lalu pulang kampung. Tapi, dalam film ini Sita tidak menemukan ketiga-tiganya. Ia justru bertemu seorang lelaki yang terkunci rapat dalam sebuah kotak waktu. Media pertemuan mereka adalah foto. Tapi, foto kemudian bukan sekadar media pertemuan. Bagi Johan, foto adalah wahana untuk menautkan dirinya dengan hidup, sekaligus jendela rekonsiliasi serta pembebasan dari “dosa” di masa silam. Dulu, ia meninggalkan anak dan istrinya karena sadar bahwa ia tak mencintai perempuan itu. Tapi, pada saat yang sama, anak dan istrinya mati secara tragis terlindas kereta api. Sejak itu, ia berjanji akan menjadi orang yang baik. Dan, sebelum mati, ia juga ingin mendapatkan orang yang mau meneruskan profesinya sebagai juru foto keliling.

Ketika Sita mengetahui bahwa hidup Johan takkan lama lagi, ia berusaha membantu lelaki itu untuk mewujudkan keinginannya. Saat itu Sita baru saja kehilangan pekerjaan sebagai penyanyi karaoke dan berhasil melarikan diri dari si germo. Sita kemudian bekerja pada Johan. Hubungan dua manusia ini menjadi lebih intens dan pelik, kadang diwarnai peristiwa-peristiwa yang subtil. Foto dan kegiatan memotret keliling bukan lagi sebagai pekerjaan rutin bagi mereka berdua, tapi sudah menjadi wahana untuk menyingkap diri masing-masing.

Johan kemudian berani membuka kotak tua tempat menyimpan foto-foto dan benda-benda yang memeram tragedi di masa lalunya. Ia terguncang hebat oleh benda-benda itu, tapi justru di situ ia menemukan sublimasi: rasa sakit tidak harus dikubur dan dibuang dari ingatan, melainkan justru mesti dimasuki untuk kemudian dilewati. Rasa sakit mesti dikunyah, lalu dicecap hingga habis pedih perihnya. Itu juga yang dirasakan Sita: ia menjadi sadar bahwa hidup adalah proses keluar-masuk dari getir nasib yang satu ke getir nasib yang lain, dan masih banyak hal yang dapat dilakukan selain melarikan diri dari si germo atau membayangkan segala sesuatu di luar jangkauannya. Dan, setelah semuanya terasa lebih enteng, Sita kemudian mengantar Johan naik kereta api, lalu ke pelabuhan tempat Johan pertama kali menapakkan kaki di Jawa. Terakhir, Johan menyuruh Sita memotretnya. Pada saat itulah Johan dijemput maut. Itulah akhir yang subtil dari seorang lelaki yang hidup dengan sunyinya sendiri.

Kedalaman

Tokoh Johan dimainkan dengan cemerlang oleh aktor Singapura, Lim Kay Tong. Syukurlah, Shanty dapat memainkan sosok Sita dengan cemerlang pula. Kemampuan bahasa Indonesia Lim Kay Tong yang sangat terbatas membawa berkah lain: karakter Johan sebagai lelaki Tionghoa yang terisolasi jadi kian ekstrem meski kadang situasi alienasi yang direpresentasikan lewat artikulasi dialog yang terbata-bata itu tampak berlebihan. Tapi okelah. Itu semua toh tak mengurangi kedalaman hubungan antarkarakternya yang sangat unik dan unsur-unsur kontemplatif yang disusun lewat gambar-gambar yang sederhana dan efisien. Bahasa sinematografis yang klasik semacam itu sudah tampak pada Nan Achnas ketika menggarap film Pasir Berbisik (2000). Bedanya, pada Pasir Berbisik, sublimasinya tersusun lewat gambar yang lebih pelik untuk mengimbangi kerumitan dan kedalaman hubungan antarkarakter yang datar, tapi berujung pada guncangan dahsyat di tengah medan alam yang sangat kejam.

Satu-satunya kelemahan film ini adalah pada penataan musiknya. Di sini musik disusun berdasarkan pada nada dan bukannya pada bunyi. Rincian situasi kejiwaan para tokohnya yang sangat peka itu menuntut eksplorasi bunyi sebagai sari dari musik yang memantul dari jeritan lirih yang di sana-sini, bahkan terasa puitis. Tapi, akibat sapuan musik yang mengacu pada nada (yang terlalu ngepop), tekstur yang diciptakan oleh gambar dan gerak instingtif pemainnya, bangunan puitik itu justru terancam kehilangan daya getarnya.

Tapi, terlepas dari semua itu, film ini telah mengobati kerinduan saya terhadap tontonan yang mudah dicerna, tapi berisi dan memiliki kedalaman. Setelah seharian didera kerunyaman kota hingga tubuh lemas tak berdaya, kadang saya kehabisan energi buat menghadapi film-film yang kelewat rumit (dengan pretensi penemuan artistik ini-itu) sebagaimana juga saya yang kadang tidak sanggup menelan film-film populer tanpa isi itu. Syukurlah, sehabis menonton The Photograph, kerinduan saya terhadap kesederhanaan dan kedalaman dalam film Indonesia agak terobati.

Dimuat di Kompas, 15 Juli 2007.

The Photograph Quickie Express

One Response to “Potret Sunyi Sang Juru Foto”

Ronggi:

Mungkin sudah sangat telat untuk saya memberikan komentar film ini. Meminjam bahasa anak sekarang, sudah basi! Akan tetapi, setelah membaca review mas Wicaksono Adi, membuat saya tergerak untuk mengomentari film ini. Saya setuju dengan mas Adi kalau akting Lim Kay Tong di film ini cukup bagus. Kemudian suasana yg coba dibangun si sutradara juga berhasil menampilkan aura yang suram dan gelap. Akan tetapi, menurut saya, akting Shanti dan Lukman Sardi kurang bagus. Ini terlihat dari pengucapan logat Jawa yg terputus-putus. Maksud saya, di awal-awal film, logat Jawa yang diucapkan oleh Shanti dan Lukman Sardi cukup kental. Waktu film berjalan logatnya terputus-putus (kurang fasih), kadang medok, kadang tidak. Itu berlangsung hingga akhir film. Misalkan pada waktu Sita menelpon anaknya di Jawa. Dalam adegan ini, logat Jawa yang diucapkannya tersendat-sendat. Sedangkan tokoh germo yang diperankan Lukman Sardi juga demikian. Ada adegan si “germo” mengejar Sita ke kontrakannya. Disitu ia berteriak-teriak. Logat Jawa yang pada awal film terdengar cukup kental, langsung hilang. Ini menyebabkan sosok Sita dan juga si “germo” yang berasal dari Jawa kurang bisa ditampilkan secara utuh dan dalam. Atau, apakah justru kedua orang ini sudah lama tinggal di Jakarta, menyebabkan logatnya tidak begitu kental lagi. Apakah memang itu yang diingkan sutradara? Saya tidak tahu. Satu lagi catatan saya mengenai akting Shanti. Menurut saya, bahasa tubuh yang ditampilkannya juga tidak terlalu baik. Sosok kampungan seorang Sita kurang bisa ditunjukkan secara maksimal. Ini terlihat pada waktu Sita menyapu lantai, lalu memncoba membuka kotak “pandora” si juru foto. Disini, gerakan yang dilakukan Shanti terlalu cepat, agak terburu-buru. Terkesan ada sosok asli Shanti yang muncul. Padahal, menurut saya, untuk menampilkan sosok wanita Jawa (walaupun ia seorang pelacur), itu harus kalem. Atau, lagi-lagi, apakah itu yang memang diinginkan sang sutradara? Saya tidak tahu. Yang menurut saya aktingnya bagus, selain Lim Kay Tong, adalah peran banci yang dimainkan Nicholas Saputra. Ia mampu menipu penonton, walaupun hanya tampil sebentar. Penonton tidak akan menduga kalau itu adalah Niko. Demikian komentar saya. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Lagi pula, saya bukanlah pengamat film sejati. Saya hanya penikmat film yang belum bisa bikin film.

Leave a Reply