Naga Bonar Jadi 2 Romantisme Islami “Ayat-Ayat Cinta”
03  March  2008

Masyarakat Samin dalam Film Layar Lebar


Masyarakat Samin adalah suku pedalaman yang ada di daerah Blora, kota kecil di Jawa Tengah. Sebagai orang yang sempat tinggal di daerah Jawa Tengah, saya lumayan akrab dengan kata “samin”. Kata ini biasanya berkembang fungsinya dalam percakapan sehari-hari sebagai ejekan yang artinya “gila”.

Film Lari Dari Blora mengangkat kehidupan masyarakat Samin dan hubungan interaksinya antara masyarakat Blora, pemerintah setempat dan masyarakat Samin itu sendiri. Film yang disutradarai oleh Akhlis Suryapati ini merupakan adaptasi dari pemenang juara ketiga Sayembara Penulisan Naskah Film Depdikbud 2004 yang aselinya berjudul Cagar Pelarian. Film ini dibintangi oleh WS Rendra, Ardina Rasti, Iswar Kelana, Soultan Saladin, Nizar Zulmi dan seorang pemain asing yang berperan sebagai peneliti dari LSM Amerika, Annika Huyper.

Alkisah dua orang buronan dari Penjara Blora yang melarikan diri menuju ke desa Samin. Ketika di kota Blora orang-orang mulai waspada atas peringatan polisi setempat mengenai buronan tersebut, masyarakat Samin (yang dalam film ini diwakili oleh WS Rendra sebagai orang Samin paling terpandang di lingkungannya), justru bersikap tenang-tenang saja. Film ini berusaha menunjukan bentuk sikap masyarakat Samin yang seolah “semau gue”, tidak mau patuh pada peraturan yang seolah-olah mengeksklusifkan diri. Sepengetahuan saya mengenai masyarakat Samin, dalam film ini justru gambaran warga Saminnya masih sangat kurang Samin. Ada di antara tokoh Samin di dalam film yang kelihatan sangat khawatir dan peduli dengan peringatan aparat dan peraturan pemerintah. Melihat judul yang diangkat, seharusnya pula ceritanya seputar dua orang buronan yang kabur. Tetapi tidak, dalam perkembangannya, ceritanya makin jauh dari dua buronan ini. Saya pikir, jika menggunakan judul Cagar Pelarian (judul aseli naskahnya) justru lebih tepat ketimbang judul Lari Dari Blora.

Saya sebetulnya berharap banyak atas film ini, sebab pada dasarnya ide yang diangkat lumayan menarik. Sayangnya, ternyata film ini jadi terlalu bertele-lete, terutama karena banyaknya khotbah sebagai penjelasan apa itu Samin, bagaimana peraturan pemerintah, serta apa itu terorrisme, segela penjelasan ala pemerintahan yang penuh birokrasi. Meski konfliknya makin berkembang, tetapi ritme yang terlalu lambat membuat penonton bosan di tiga puluh menit pertama. Pengambilan gambar yang banyak close-up ke wajah kasting juga mengganggu. Baik DOP maupun sutradara kelihatannya kurang memperhitungkan bahwa ini adalah film layar lebar yang notabene akan dimainkan di layar yang betul-betul lebar. Saya pikir tidak perlulah penonton melihat wajah kasting yang jelas-jelas didempul make-up. Jadinya tak ada beda dengan sinetron. Untungnya, WS Rendra berakting lumayan, meski aktor lainnya masih terlalu kaku. Justru Annika Huyper, pemain asing dengan logat Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa yang pas-pasan berakting jauh lebih natural dibanding aktor Indonesia yang ada di film Lari Dari Blora.

Di samping gambar dan kasting, musik latar yang buruk juga mengganggu penonton. Tidak masalah Rafika Duri yang menjadi penyanyi sound track lagu ini, yang menjadi masalah adalah musik latar yang berkesan dimasukkan secara paksa dan dibuat seenaknya. Seolah musik yang ada ditempel tambal-sulam di adegan sana-sini. Dengan majunya dunia musik Indonesia sekarang, dan canggihnya musik buatan pemusik-pemusik muda kita, musik latar semacam di film Lari Dari Blora seharusnya sudah ditinggal sejak dua puluh tahun lalu.

*gambar diambil dari http://www.laridariblora.com/galeri.htm

Naga Bonar Jadi 2 Romantisme Islami “Ayat-Ayat Cinta”

Leave a Reply