Monyet Itu Baik-baik Saja Amazing Race Asia
07  February  2008

Love in the Time of Cholera

Akhirnya saya menonton film ini di Blitz. Pertama-tama tentu karena film ini berdasarkan novel Love in the Time of Cholera Gabriel Garcia Marquez. Itu salah satu novel yang saya suka, meskipun jika harus menyebut mana karya Marquez terbaik menurut saya, barangkali saya malah akan menyebut dua novel pendeknya: Chronicle of a Death Foretold dan Love and Other Demons. Jika saya harus memilih mana yang asyik untuk dibikin film, barangkali saya akan memilih No One Writes to the Colonel.

Kedua, tentu karena merasa diyakinkan oleh kru yang menggarap film ini. Seperti kita tahu, film ini ditangani oleh Mike Newell. Saya pertama kali melihat filmnya adalah Donnie Brasco, dan belakangan ia juga menyutradarai salah satu film Harry Potter (Goblet of Fire — tak terlalu istimewa).

Ketiga, tentu saja karena film ini diadaptasi oleh penulis skenario Ronald Harwood, peraih Oscar untuk skenario The Pianist. Belum lagi dengan sederet bintang dari berbagai negara yang mengisi film ini: sebagai Florentino Ariza adalah aktor Spanyol Javier Bardem. Fermina Daza diperankan oleh Giovanna Mezzogiorno, aktris Italia. Aktor Amerika Benjamin Bratt berperan sebagai Dokter Juvenal Urbino.
 
Film ini dibuka persis sebagaimana aslinya: Dokter Juvenal hendak menangkap burung beo yang lepas ke pohon. Sedikit saja perbedaannya: di novel, si dokter naik ke pohon melalui jendela; di film, ia naik mempergunakan tangga dari tanah. Tapi sama saja: si dokter jatuh dan mati. Lonceng gereja yang memberitahukan kematiannya menyadarkan Florentino Ariza, bahwa cinta abadinya, Fermina Daza, kini telah menjadi janda … ia bersiap untuk menyongsong masa depannya cintanya.

Setelah lima puluh tiga tahun, tujuh bulan, dan tujuh hari-malam penantian cinta Florento Ariza, film ini juga ditutup seperti novelnya: sebuah monolog dari Florentino Ariza yang mengatakan bahwa “kehidupanlah, melebihi kematian, yang tak memiliki batas.” Serta sebuah kalimat pendek yang telah dipersiapkan lama: “Selamanya” (bedanya, di buku itu diucapkan Florentino Ariza kepada si Kapten kapal, di film itu diucapkannya kepada Fermina Daza di tempat tidur kapal).

Dari situ bisa dibayangkan, film ini berusaha untuk seperti aslinya, termasuk ke urut-urutan ceritanya. Dan sejujurnya, itu menyedihkan sekali. Untuk sutradara dan penulis skenario sekaliber mereka berdua, tampak bagaikan tak ada keberanian untuk membuat sesuatu yang lebih baik di depan nama besar judul Love in the Tome of Cholera. Keputusan untuk merujuk seaslinya, tak hanya berlaku dalam alur cerita, tapi bahkan ke gaya yang mestinya hanya terasa bagus di novel, dan tidak di film.

Sebagai contoh, kita mengetahui dengan baik kegemaran Marquez untuk membangun gaya yang hiperbola, baik dalam kalimat maupun cerita. Ia misalnya, menggambarkan Florentino Ariza sebagai si tukang meniduri perempuan dengan mengutip kata-kata Ariza sendiri yang berkata sudah meniduri 622 perempuan. Angka-angka seperti itu (622 perempuan yang ditiduri — 53 tahun penantian), merupakan teknik Marquez untuk meyakinkan pembaca. Nah, saya pikir hal seperti itu tak perlu diulang di film. Film merupakan bahasa visual. Untuk meyakinkan bahwa Florentino Ariza sudah meniduri banyak perempuan, saya pikir hanya perlu beberapa scene dengan beberapa perempuan, dan beberapa dialog, tanpa menyebut angka. Begitu pula 53 tahun penantian, kita hanya butuh make-up yang baik untuk memperlihatkan perubahan umur.

Ah, saya bukan pembuat film — hanya penonton yang keranjingan, tapi hal demikian terlalu sederhana untuk bisa dimengerti, bukan?

Satu hal lagi, problem utama adaptasi novel ke dalam film salah satunya adalah penanganan waktu. Itu tak menjadi masalah besar untuk novel-novel pendek yang bisa ditangani oleh film 100 menit, atau paling panjang 2 jam. Masalahnya, Love in the Time of Cholera merupakan novel setebal hampir 350 halaman dengan durasi cerita melampaui masa setengah abad: apa yang bisa diperbuah untuk film 2 jam? Hanya ada dua kemungkinan: mengambil bagian-bagian penting, atau hanya mengeksplorasi bagian tertentu dalam novel, yang bisa mewakili karakter novel tersebut.

Contoh pertama bisa kita lihat dalam adaptasi Bram Stoker’s Dracula karya Francis Ford Coppola. Copolla mengantisipasi “peringkasan” cerita dengan imajinasi-imajinasi gambar yang orisinal merupakan interpretasinya atas novel Bram Stoker. Misalnya bagian ketika kita melihat bayangan Dracula yang bergerak sendiri, saya pikir itu adaptasi yang luar biasa dari suatu adegan, yang tidak kita temui dalam novelnya.

Contoh kedua, dimana adaptasi film hanya mengambil bagian tertentu dalam novel, adalah The English Patient (dari penulis Michael Ondaatje) karya sutradara Anthony Minghella.

Love in the Time of Cholera, dengan pretensi untuk taat-alur, tentu saja mengambil pendekatan pertama. Akibatnya, kita seperti memperoleh ringkasan cerita dan tak memperoleh emosi apa pun. Kita seperti dipaksa untuk sedih, atau terharu, tanpa ada landasan yang cukup kokoh untuk menuju ke perasaan itu. Bayangkan, sebuah kisah yang pada dasarnya memperlihatkan kekeraskepalaan seorang lelaki menunggu cintanya, tapi kita tak merasa lelaki itu menunggu cukup lama. Juga bayangkan, rasa sakit karena cinta yang tak tergapai, di novel diperbandingkan dengan cukup bagus dengan wabah kolera; di film tak terasa menyakitkan. Bahkan saya merasa, kolera maupun perang di film ini serasa tempelan.

Dan berkirim surat memakai burung merpati? — itu jadi terasa komik. Ah, barangkali karena saya merasa terlalu tahu Love in the Time of Cholera — dan merasa sutradara dan penulis skenario hanya membaca novel itu beberapa bulan sebelum membikin film? Mungkin begitu. Satu-satunya yang menghibur saya adalah, lagu ilustrasi yang dinyanyikan oleh Shakira; serta animasi pembukaan yang mengingatkan saya kepada sampul bukunya … bunga dan dedaunan yang meliuk-liuk.

Juga tag film ini: berapa lama Anda mau menunggu demi cinta?

Monyet Itu Baik-baik Saja Amazing Race Asia

2 Responses to “Love in the Time of Cholera”

Ronggi:

Terus terang, saya belum sempat menonton film ini. Tapi membaca review mas Eka Kurniawan, membuat saya terkagum-kagum. Saya kagum bukan pada si sutradara ataupun si penulis skenario film ini. Melainkan kepada si pembuat review, yaitu mas Eka Kurniawan sendiri. Ia secara detail dan meyakinkan mampu menganalisa sekaligus membandingkan film ini dengan novel aslinya. Ia dengan berani mengemukakan pendapatnya mengenai apa yang seharusnya dilakukan para sineas untuk mengadaptasi sebuah novel. Wah jadi penasaran nih mas. Nanti kalau punya uang, saya akan coba cari film ini, karena di bioskop sudah tidak ada.

vidie:

seharusnya film yang di anggap bagus dan laku dipasaran,mengapa tidak di putar ulang dengan versi tambahan biar lebih dari film yang sebelumnya

Leave a Reply